Pengaruh Media Massa Terhadap Pembentukan Opini Publik dan Propaganda Partai dan Tokoh Politik

Pendahuluan

Bagi Negara Demokrasi, Partai politik memiliki peran penting dalam menunjang proses demokrasi. Demokrasi sendiri memiliki banyak konsep bagi Negaranya masing-masing. Ada yang dinamakan demokrasi konstitusional, demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, demokrasi pancasila, demokrasi rakyat dan lain sebagainya. Namun semua konsep tersebut sebenarnya mengaruh pada satu konsep yaitu rakyat yang berkuasa. Dalam mencapai kekuasaan tersebut tentunya rakyat tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya suatu wadah yang bisa menyatukan pemikiran, visi, dan orientasi dari masyarakat untuk kemudian dikonsolidasikan menjadi sebuah pemikiran nyata bagi bangsanya. Tentunya semua kekuasaan tersebut berangkat dari kendaraan yang dikendarai oleh tokoh-tokoh yang memiliki kredibilitas tinggi untuk memimpin. Disinilah partai politik memiliki peran sebagai kendaraan politik bagi seseorang untuk mecapai kekuasaan dan kedudukan politik atas nama rakyat.

Dalam melakukan proses memperoleh kedudukan dan kekuasaan politik, partai politik beserta tokoh-tokohnya melakukan segalam macam propaganda politik. Hal ini biasanya dilakukan oleh sebagiaan besar partai politik ketika menjelang pesta demokrasi berupa Pemilihan Umum untuk memilih anggota legislative dan memilih Presiden dan Wakil Presiden dalam sebuah Negara. Dalam melakukan propaganda politik, partai politik dan tokohnya tidak dapat memisahkan diri dari peran media massa. Media massa memiliki peran yang sangat besar dalam melakukan propaganda. Menjelang Pemilihan Umum, media massa biasanya penuh dengan iklan-iklan politik yang dimaksudkan untuk menarik massa dengan cara melakukan pencitraan terhadap seorang tokoh atau partai politik tertentu. Untuk apa pencitraan ? Pencitraan dimaksudkan untuk memberikan image positif terhadap sesuatu yang dicitrakan dalam hal ini partai politik dan tokohnya. Dengan memiliki image positif, maka partai atau tokoh politik dianggap memiliki kredibilitas tinggi yang artinya masyarakat memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap sebuah partai atau tokoh politik tertentu sehingga tingkat keterpilihannya tinggi untuk mencapai kekuasaan dan kedudukan politik karena masyarakat saat ini akan cenderung untuk memproses informasi yang dating dari media yang dikonsumsinya untuk mendapatkan referensi sebanyak-banyaknya terhadap jasa politik yang ditawarkan partai politik untuk menghindari kesalahan memilih produk politik. Karena kesalahan memilih produk politik, maka mereka akan bertanggung jawab terhadap apa yang akan terjadi terhadap bangsa dan negaranya apabila dipimpin oleh orang yang salah.

Pembahasan

Definisi Partai Politik

Banyak sekali definisi mengenai partai politik. Secara umum partai politik merupakan kelompok terorganisir yang anggota-anggotanya memiliki orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama. Tujuan mereka secara umum adalah memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik dengan cara yang konstitusional untuk melaksanakan programnya. Beberapa contoh definisi dipaparkan oleh beberapa tokoh di bawah ini :

Sigmund Neumann dalam Modern Political Parties :

Partai politik adalah organisasi dari aktivis-aktivis politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintahan serta merebut dukungan rakyat melalui persaingan dengan suatu golongan atau golongan-golongan lain yang mempunyai pandangan berbeda

Carl J. Friedrich menuliskan sebagai berikut :

Partai politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pemimpin partainya dan berdasarkan penguasaan ini memerikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat idiil serta materiil

Giovanni Sartori

Partai politik adalah suatu kelompok politik yang mengikuti pemilihan umum dan, melalui pemilihan umum itu mampu menempatkan calon-calonnya untuk menduduki jabatan-jabatan publik

Fungsi Partai Politik di Negara Demokrasi

  • Sebagai Sarana Komunikasi Politik

Proses ini dinamakan penggabungan kepentingan ( interest aggregation ). Sesudah digabungkan, pendapat dan spirasi tadi diolah dan dirumuskan dalam bentuk yang lebih teratur. Proses ini dinamakan perumusan kepentingan ( interest articulation ). Agregasi dan artikulasi itulah salah satu fungsi komunikasi politik.

Setelah itu partai politik merumuskannya menjadi usulan kebijakan yang dimasukkan ke dalam program atau platform partai ( goal formulation ) untuk diperjuangkan atau disampaikan melalui parlemen kepada pemerintah agar dijadikan kebijakan umum ( public policy ).

Partai politik juga berfungsi memperbincangkan dan menyebarluaskan rencana – rencana dan kebijakan – kebijakan pemerintah. Maka dari itulah partai politik memainkan peran sebagai penghubung antara yang memerintah dan yang diperintah. Dalam menjalankan fungsi inilah partai politik sering disebut perantara ( broker ) dalam suatu bursa ide – ide ( clearing house of ideas ). Kadang – kadang juga dikatakan bahwa partai politik bagi pemerintah bertindak sebagai alat pendengar, sedangkan bagi warga masyarakat sebagai “ pengeras suara “.

  • Sarana Sosialisasi Politik

Sosialisasi politik diartikan sebagai suatu proses yang melaluinya seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap fenomena politik, yang umumnya berlaku dalam masyarakat dimana ia berada. Ia adalah bagian dari proses yang menentukan sikap politik seseorang.

Partai politik juga menjadi penghubung yang mensosialisasikan nilai – nilai politik dari generasi satu ke generasi selanjutnya. Di sinilah letaknya partai dalam memainkan peran sebagai sarana sosialisasi politik. Pelaksanaan fungsi sosialisasinya dilakukan melalui berbagai cara yaitu media massa, ceramah – ceramah, penerangan, kursus kader, penataran dan sebagainya.

Sisi lain dari fungsi sosialisasi politik partai adalah upaya untuk menciptakan citra ( image ) bahwa ia memperjuangkan kepentingan umum. Ada lagi yang lebih tinggi nilainya apabila partai politik dapat menjalankan fungsi sosialisasi yang satu ini, yakni mendidik anggota – anggotanya menjadi manusia yang sadar akan tanggung jawabnya sebagai warga Negara dan menempatkan kepentingan sendiri di bawah kepentingan nasional.

  • Sarana Rekrutmen Politik

Rekrutmen politik menjamin kontinuitas dan kelestarian partai, sekaligus merupakan salah satu cara untuk menjaring dan melatih calon – calon pemimpin. Ada bebagai cara untuk melakukan rekrutmen politik, yaitu melalui kontak pribadi, persuasi, ataupun cara – cara lain.

  • Sarana Pengatur Konflik ( Conflict Management )

Potensi konflik selalu ada di setiap masyarakat, apalagi di masyarakat yang bersifat heterogen. Disini peran partai politik diperlukan untuk membantu mengatasinya, atau sekurang – kurangnya dapat diatur sedemikian rupa sehingga akibat negatifnya dapat ditekan seminimal mungkin.

Partai politik dapat menjadi penghubung psikologis dan organsasional antara warga Negara dengan pemerintahnya. Selain itu partai juga melakukan konsolidasi dan artikulasi tuntutan – tuntutan yang beragam, yang berkembang diberbagai kelompok masyarakat. Partai juga merekrut orang – orang untuk diikutsertakan dalam kontes pemilihan wakil – wakil rakyat dan menemukan orang – orang yang cakap untuk menduduki posisi – posisi eksekutif.

Peran Media Massa dalam Konteks Komunikasi Politik

Dalam Negara Demokrasi, media memiliki peran yang sangat penting. Bahkan banyak para tokoh yang menganggap bahwa media merupakan pilar demokrasi yang ke empat setelah eksekutif, legislative, yudikatif. Maka dari itu, media memiliki peran yang sangat besa dalam rangkan mewujudkan Negara demokrasi yang sebenarnya. Diantara peran media massa dalam pembentukan opini public dan propaganda politik adalah :

  • Peran Edukatif

Dalam melaksanakan peran edukattif, media berusaha untuk menyajikan sebuah program ataupun artikel (apabila media cetak) yang memiliki fungsi memberikan dan menanamkan nilai-nilai pendidikan yang bertujuan agar masyarakat saat ini tidak mengalami kemunduran pengetahuan. Dalam konteks komunikasi politik, maka media juga melakukan pendidikan politik kepada khalayaknya.

  • Peran Informatif

Media melakukan peran informative dalam Negara demokrasi adalah bagaimana media berusaha menyajikan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dalam konteks politik, media mencoba memberikan informasi-informasi tentang sebuah partai atau seorang tokoh politik tertentu yang sedang melakukan propaganda dan pembentukan opini public agar masyarakat atu paling tidak konstituenya mengerti dan paham siapa yang akan mereka pilih dan bagaimana visi, misi, serta programnya yang dapat menjadi nilai untuk masyarakat memilih yang terbaik bagi bangsanya.

  • Peran Pemasaran

Media juga memiliki fungsi pemasaran. Dalam memerankan fungsi pemasaran, media bukan saja menyediakan informasi yang akan diolah khalayak dalam bentuk kognisi saja, tapi fungsi pemasaran media mentargetkan tahapan afeksi dan behavior. Dalam konteks pemasaran politik, media menjadi sarana yang paling efektif dalam melakukan pemasaran politik, terutama menjelang pemilihan umum. Partai Politik beserta tokohnya berondong-bondong melakukan pemasaran politik di media massa agar mereka memiliki elektabilitas yang tinggi untuk menduduki jabatan politik tertentu.

Propaganda Politik

Pengertian dari propaganda adalah sebuah upaya disengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau kognisi, dan memengaruhi langsung perilaku agar memberikan respon sesuai yang dikehendaki pelaku propaganda. Sedangkan propaganda politik adalah tulis Bruce L Smith dalam Encyclopaedia Social Science sebagai “manipulasi relatif secara sengaja dengan menggunakan simbol (kata-kata, sikap, bendera, citra, monumen atau musik) terhadap pikiran atau tindakan orang lain dengan sasaran terhadap kepercayaan, nilai dan perilakunya. Unsur kesengajaan dan manipulasi membedakan propaganda dari komunikasi biasa atau pertukaran ide secara bebas. Ini juga membedakan aliran informasi melalui pendidikan. Propagandis menyajikan argumentasi yang sudah diatur atau satu set simbol tunggal, sedangkan pendidik memberikan “semua” sisi dari sebuah isu dan membiarkan pendengarnya memutuskan tentang kebenaran atas apa yang dipresentasikan .

Mekanisme Propaganda

Propaganda itu adalah suatu tindakan yang sulit diraba. Untuk melihat mekanisme propaganda dalam tingkat negara (state) KJ Holsti dalam International Politics: A Framework for Analysis (1992) menguraikan dua model dari sebuah propaganda. Sebuah negara dalam interaksi dengan negara lain melancarkan propaganda. Untuk mempengaruhi negara lain, sebuah negara melalukan propaganda melalui kelompok – kelompok sosial atau organisasi di negara yang jadi sasaran. Dengan propaganda itu maka kelompok masyarakat dapat mendesak kepada pemerintahnya untuk mengubah kebijakan yang dikehendaki oleh negara yang melakukan propaganda.

Teknik-teknik Propaganda

Untuk melakukan proses itu, sejumlah teknik propaganda dikerahkan agar tepat sasaran. Holsti mencatat sejumlah teknik untuk menyampaikan pesan.

  1. Name-Calling.

Propagandis menyentuh simbol-simbol emosional kepada seseorang atau sebuah negara. Targetnya diharapkan merespon sesuai yang dikehendaki propagandis tanpa perlu memeriksa lagi atau mencari bukti-bukti. Dengan demikian propagandis melancarkan semacam stereotipe kepada sasarannya.Dalam hal ini muncul istilah komunis menjadi “merah”, pemimpin buruh menjadi “bos serikat buruh” dan pemeritah konstitusional menjadi klik pemerintah.

  1. Glittering Generality

Ini mirip dengan teknik nomor pertama namun digunakan untuk melukiskan sebuah gagasan atau kebijakan bukannya individu. Istilah “dunia bebas” (freeworld) adalah generalitas favorit propagandis Barat. Sedangkan “solidaritas sosialis” dipakai dunia komunis untuk menggambarkan hubungan kompleks diantara negara dan partai komunis. Sementara itu “jiwa Afrika” (the African soul) diharapkan mencipta citra kekuatan dan persatuan.

  1. Transfer

Porpagandis berusaha mengidentifikasikan sebuah gagasan, pribadi, negara atau kebijakan dengan hal lain untuk membuat sasaran propaganda setuju atau tidak setuju. Salah satu caranya adalah membangkitkan kebencian sikap rakyat beragama terhadap komunis yang menyamakan dengan ateisme. Komunis biasanya menyamakan kapitalis dengan dekadensi (kemerosotan) dan anti semit dengan harapan menciptakan dukungan publik karena menyamakan yahudi dengan komunis.

  1. Plain Folks

Propagandis sadar bahwa masalah mereka terhambat jika mereka tampak di mata audiensnya sebagai “orang asing”. Oleh sebab itu mereka berusaha mengidentifikasikan sedekat mungkin dengan nilai dan gaya hidup sasaran propaganda dengan menggunakan slang, aksen dan idiom lokal.

  1. Testimonial

Di sini propagandis menggunakan pribadi atau lembaga yang dapat dipercaya untuk mendukung atau mengkritik sebuah gagasan atau kesatuan politik. Variasi dari propaganda ini adalah “mengkaitkan dengan yang memiliki wibawa/kekuasaan” dimana sasaran propaganda akan mempercayai sesuatu karena sesuatu yang memiliki “otoritas” mengatakan hal itu.

  1. Selection

Hampir semua propagandis bahkan ketika menggunakan teknik lain seperti diulas sebelumnya tergantung pada seleksi fakta, meskipun jarang sangat spesifik dalam isi faktanya. Ketika presentasi rinci diberikan, propagandis menggunakan hanya fakta-fakta yang tersedia untuk “membuktikan” sasaran yang telah ditentukannya.

  1.  Bandwagon

Teknik ini memainkan perasaan audiens untuk sesuai dengan massa.Teknik ini mirip testimonial namun massalah yang jadi cara untuk menarik perhatian. Misalnya propagandis komunis sering menggunakan ungkapakn “seluruh dunia tahu bahwa ….” Atau “semua rakyat yang cinta damai mengakui bahwa ……” Atau “semua masyarakat progresif menuntut bahwa ……” . Teknik ini menempatkan sasaran sebagai minoritas sehingga bila mereka menolak harus bergabung dengan mayoritas. Atau jika sasarannya simpati maka aka menguatkan sikap mereka dengan mendemontrasikan bahwa mereka sudah ada di pihak yang “benar” beserta orang lainnya.

  1. Frustration Scapegoat

Salah satu cara mudah untuk menciptakan kebencian atau menyalurkan frustrasi adalah menciptakan kambing hitam. Rejim-rejim revolusioner yang berhadapan dengan ketidapastian ekonomi dan sosial internal serta frustrasi rakyat sering menciptakan “hantu” internal atau eksternal untuk menyalurkan penderitaan rakyat. Salah satu contoh populer adalah mitos yang diciptakan Hitler bahwa masalah dalam negeri dan luar negeri Jerman disebabkan yahudi yang disamakan dengan komunis.

  1.  Fear

Kesadaran dapat bangkit dan sikap berubah manakala audiens dibuat sadar akan hambatan atau ancaman terdekat terhadap hidup dan kesejahteraan mereka. Pada masa krisis internasional, pemerintah aktiv dalam memobilisasi rakyatnya mengekspresikan solidaritas ketika mereka berhadapan dengan musuhnya. Ancaman nuklir digunakan untuk mendorong pengawasan dan perlucutan persenjataan. Sedangkan kekhawatiran kerusakan ekologi membangkitkan kesadaran akan isu-isu lingkungan.

Dalam kehidupan berpolitik, propaganda dekat dengan opini publik. Opini publik itu sendiri adalah proses yang menggabungkan pikiran, perasaan, dan usul yang diungkapkan oleh warga negara secara pribadi terhadap pilihan kebijakan yang dibuat oleh para pejabat pemerintah yang bertanggungjawab atas tercapainya ketertiban sosial dalam situasi yang mengandung konflik, perbantahan, dan perselisihan pendapat tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya. Seperti setiap proses, opini publik berubah dan berkembang. Opini public dapat tersusun jika opini pribadi dimiliki bersama secara luas melalui kegiatan kolektif dengan lebih banyak orang ketimbang yang menjadi pihak pencetus perselisihan atau masalah yang menyebabkan munculnya isu. Penyusunan opini publik dari opini pribadi ini melibatkan saling pengaruh diantara proses personal sosial dan politik.

Asal mula opini tentang kebanyakan masalah terletak dalam perselisihan atau perbantahan yang memiliki potensi untuk berkembang menjadi isu yang akan menangkap perhatian banyak orang. Ada 4 tahapan pembentukan opini :

  • Pempublikasian konflik pribadi ialah munculnya pertikaian yang memiliki potensi menjadi isu.
  • Munculnya kepemimpinan untuk melakukan publikasi. Kepemimpinan seperti itu bisa dilaksanakan oleh suatu pihak dari pertikaian yang semula, seseorang yang berkomunikasi melampaui orang – orang yang dikenalnya secara pribadi.
  • Munculnya intepretasi personal. Melalui intepretasi, orang memperhitungkan pertikaian dan isu serta membuat citra dalam membantunya.
  • Pembentukan opini, tahap yang menyesuaikan opini pribadi setiap orang pada persepsinya tentang opini yang lebih luas yakni opini publik. Tahap ini terdiri atas pilihan individu untuk menyingkapkan atau tidak menyingkapkan opini pribadi.

Kesimpulan

Media massa dalam Negara demokrasi, memiliki banyak peran terutama dalam konteks kounikasi politik. Dalam Negara demokrasi yang memiliki konsep kekuasaan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, maka pemilihan umum merupakan satu sarana yang digunakan untuk menunjuk satu orang pemimpin suatu Negara untuk menduduki kekuasaan tertentu. Dalam proses kampanye, para partai politik melakukan pembentkan opini public dengan melakukan pencitraan kepada khalayak tentang bagaimana selera masyaraat kita dalam memilih sebuah partai dan tokoh politik tertentu. Dalam melakukan pembentukan opini public, parta politik juga memainkan peran propaganda, yaitu sebuah upaya disengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau kognisi, dan memengaruhi langsung perilaku agar memberikan respon sesuai yang dikehendaki pelaku propaganda.

Dalam Konteks Komunikasi Politik, maka media memiliki peran sebagai berikut : 1. Media melakukan fungsi edukasi politik, 2. Media memberikan informasi-informasi yang berkaitan dengan isu politik, dan 3. Media melakukan fungsi pemasaran politik dimana ketiga fungsi tersebut merupakan fungsi yang dapat menyebabkan propaganda politik secara besar-besaran demi mempengaruhi masyarakat pada tataran kognisi, afeksi, dan behavior.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s