Titik Simpang

1442880148169

 

Aku menyebutnya titik simpang. Definisi sederhananya adalah titik dimana kita berada pada paling tidak dua pilihan Jalan untuk dilalui. Antara melanjutkan jalan yang sudah kita lalui sebelumnya, atau memilih persimpangan Jalan lainnya.

Jelas kedua jalannya berbeda, terjal yang mesti dilalui pun pasti bervariasi. Tapi tak selalu soal beda tantangan. Keduanya pun punya persamaan, yaitu sama-sama jalan. Mau lewat manapun HARUS dilalui. Soal mana yang lebih cepat sampai tujuan, keduanya relatif.

Yang jelas, kita yang tau apa tujuan kita, kemana kita mengarah. Tugas kita cuma memastikan kita terus berjalan. Karena berhenti berarti mati, bersamaan dengan matinya mimpi-mimpi yang sudah tersusun rapi. Maka berjalan sajalah, maka ditengah jalan, kamu akan menemukan jalanmu.

Ketemu Langsung Lamaran, Lanjut ke Pelaminan (Part.3)

Me and My Wife

Me and My Wife

Tepat bulan November 2014 lalu, kami sekeluarga berkunjung dengan niat untuk mengkhitbah sekaligus berkenalan dengan keluarga besarnya. Tidak menyangka kami disambut dengan sangat baik oleh keluarganya. Pasalnya, tidak ada yang menyangka bahwa Pakdhe (re: Paman) Lia adalah sahabat karib Abi saya yang sudah belasan tahun tak bersua dan setelah dijabarkan lebih lanjut, orang tua Lia banyak bersahabat dengan murid kursus bahasa Arab yang dijalani Abi belasan tahun lalu. Jadilah suasana khitbah kami menjadi ajang reuni dadakan bagi kedua sahabat tersebut. Begitu indah Tuhan membuat skenario pertemuan kami. Khitbah berjalan dengan lancar dan keluarga kami diterima dengan sangat baik.

Ada Laki-laki Lain

Keputusan untuk tidak menunda khitbah adalah salah satu keputusan terbaik saya seumur hidup, pasalnya beberapa hari setelah saya mengkhitbah, datanglah seorang laki-laki yang selama ini berteman akrab dengan Lia menemui orang tuanya dengan maksud menyatakan keseriusannya. Tapi apa boleh dikata, Lia sudah saya pinang dan memang tidak semestinya menerima pinangan orang lain. Saat itu pula saya ceritakan peristiwa itu ke Umi, “Mi, tau nggak, kemarin ada cowok main ke rumah Lia terus dia bilang mau serius sama Lia, tapi Papanya Lia nolak, kan kita duluan yang khitbah”, begitu ceritaku antusias. “Oiya Mas ? Ya Allah Alhamdulillah kamu waktu bilang supaya dikhitbah dulu biar nggak keduluan” ungkapnya penuh syukur. Intinya urusan lamar melamar, Siapa cepat dia dapat, begitu slogannya.

Ta’aruf (Perkenalan)

Terhitung kurang lebih sebulan kami berkomunikasi secara intens dan melanjutkan mengkhitbah, kami memutuskan untuk menjalani proses perkenalan kami sebenar dan sebaik mungkin. Walaupun kami tahu tak mudah untuk dua orang yang saling mencintai tidak saling bertemu dan melakukan kontak fisik. Kami menempuh jalan yang tak banyak orang lain lakukan itu.

Awalnya kami kebingungan bagaimana kami menjalin komunikasi dengan baik untuk saling mengenal karakter masing-masing. Akhirnya saya berinisiatif untuk menceritakan bagaimana masa lalu saya yang kelam, apa yang saya kerjakan saat ini, bagaimana lingkungan pergaulan saya, serta apa rencana masa depan saya. Tak lupa pula saya menyebutkan gaji bulanan yang saat itu masih dibawah Upah Minimum Regional (UMR) Kota Semarang. Hal detail tersebut saya tuangkan dalam tujuh halaman Microsoft Word dan dikirim melalui surat elektronik, macam surat cinta digital. Sangat kekinian.

Seiring berjalannya waktu dan komunikasi yang terlalu intens, kami merasa tidak ada bedanya pacaran jarak jauh dengan ta’aruf, kami seakan-akan berkomunikasi selayaknya pacar, saling menanyakan ‘sudah makan apa belum’, ‘lagi ngapain’, ‘jangan lupa makan’, dan lain sebagainya. Kami pun memutuskan untuk memperbaiki cara kami berkomunikasi, kami membuat sebuah grup di aplikasi messanger LINE yang terdiri dari Saya, Lia, dan dua adik saya. Kami mengkomunikasikan apapun baik yang bersifat sangat pribadi sekalipun melalui group tersebut. Hal tersebut dimaksudkan supaya kami tidak berduaan di dunia virtual.

Memang pertemuan fisik tidak terhindarkan, beberapa kali kami bertemu secara langsung walaupun selama masa khitbah bisa dihitung jari intensitas pertemuan kami. Untuk menyiasati agar tidak berkhalwat (berduaan), beberapa kali kami bertemu dengan didampingi teman atau saudara masing-masing. Beberapa kali saya berkunjung ke Solo untuk memastikan konsep pernikahan dan fitting baju pengantin dengan ditemani Adik perempuan saya, Nia. Dia pun begitu. Selalu melibatkan teman-temannya dalam pertemuan kami. Beberapa kali saya berkunjung ke orang tua Lia untuk sekedar saling bertukar pikir. Dengan begitu justru saya banyak mendapatkan teman baru, teman Lia adalah teman saya juga, begitu kira-kira konsepnya.

Masa penantian sebelum menikah menjadi masa terberat menjaga cinta dan iman. Tak jarang saya mempertanyakan kembali keseriusan diri menikahi Lia. Namun lagi-lagi Tuhan menguatkan kami, ada saja orang-orang yang tanpa dimintai pendapat menyatakan pengakuannya bahwa calon istri saya adalah orang baik. Salah satunya adalah Papa Lia. Suatu waktu beliau mengirimkan sebuah pesan singkat yang kurang lebih isinya begini. “Nak Akbar, Papa itu sayang banget sama Lia, dia anak yang sholehah, tolong jaga Lia ya nak”. Calon menantu mana yang tidak terenyuh mendengarkan kalimat itu dari calon mertua, wali dari calon istriku. Kalimat tersebut berhasil melipatgandakan keyakinan bahwa perempuan yang saya pinang adalah yang terbaik yang sudah Allah tuliskan di Lauhul Mahfudz.

Skenario Tuhan Memang Asyik

Satu lagi yang entah kebetulan atau tidak, tapi yang pasti ini sudah diskenariokan Tuhan. Ketika kami mengurus surat menyurat di Kantor Urusan Agama (KUA), tak disangka kepala KUA setempat adalah sahabat karib Abi dan Umi, dan asisten beliau sahabat Abi saya ketika SMP, sehingga persoalan surat menyurat dan verifikasi data menjadi ajang reuni dengan teman lama.

Selalu Ada Jalan

Saya memutuskan menikah ketika gaji saya masih dibawah UMR Kota Semarang, sepersepuluh gaji fresh graduate yang bekerja di Multi National Company. Ini kenekatan kesekian dalam hidup saya. Tak berpikir bahwa menikah itu butuh modal, saya justru mendapati saldo tabungan yang tak seberapa. Boleh diartikan jauh dari cukup untuk menggelar pernikahan. Tapi Tuhan memberikan saya rejeki dari jalan-jalan yang tidak disangka. Bisnis saya bertumbuh, karyawan bertambah, bahkan sudah bisa membagi deviden untuk para pemilik modal. Sebulan menjelang menikah justru klien berdatangan sampai kami kewalahan menanganinya. Tiap hari ada saja email masuk untuk mengerjakan project baru dengan nilai yang lumayan. Orang tua juga demikian, ada saja pemasukan dari sumber yang tak disangka-sangka. Keyakinan kami akan pertolongan Tuhan semakin menebal. Bahwa Tuhan tak mungkin berpangku tangan kepada hamba yang menempatkan-Nya sebagai tujuan hidup. Kali itu Tuhan turun tangan, secara penuh.

D-Day

Tepat tanggal 22 Juli 2015, saya mengucapkan “Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha Linafsiiy, bil Mahril Madzkur, Haalan”. SAH!!! Mulai detik itu saya menjadi seorang suami sekaligus Imam keluarga. Kami mengadakan pernikahan sederhana di halaman rumah mempelai putri dan keesokan harinya tasyakuran di halaman rumah saya. Tak ada riasan yang menor dan mencolok, gaun kami didesain sendiri oleh calon perancang busana terkenal, istri saya sendiri. Dekorasi juga seadanya, bagi kami tak perlu mewah untuk menikah, selebrasinya tak usah berlebih, Karena kami ingin mencintai dengan cara sederhana, seperti Rosul pada istri-istrinya.

Penantian panjang itu berujung bahagia, proses berliku itu berakhir indah.

The Power of ‘Doa Ibu’

Selesai dengan urusan pernikahan, suatu hari saya sengaja menemani Umi memasak di dapur. Kami mengenang momen indah saat pernikahan kami dimana tamu-tamu yang datang melebihi ekspektasi kami. Saudara, sahabat, teman kantor, guru-guru dari SD, SMP, SMA serta teman-teman sekolah dan organisasi hadir dan turut memberikan doa untuk kami. Subhanallah..

Saat itu pula baru saya tahu ternyata apa yang menjadi doa Umi selama ini terkabul. “Umi itu pengen jodohmu perempuan sholehah dan jangan orang jauh, Alhamdulillah kamu dapet orang Slawi, Umi itu pengen istrimu bukan dari kalangan orang mewah, takutnya nggak bisa mengimbangi gaya hidup kita yang sederhana, Alhamdulillah kamu dikasih istri yang bisa ngimbangi kamu” Begitu tuturnya penuh syukur. Dahsyat sekali kekuatan doa Ibu.

Catatan Untuk Sahabat

Sungguh pernikahan itu soal mental, bukan lamanya kita berpacaran yang menjadikan sepasang manusia berjodoh. Tidak kurang dari belasan kali saya mendapati cerita sahabat saya yang bertahun-tahun berpacaran yang hubungannya berakhir kandas. Jangankan berjodoh di pelaminan, justru sakit hati yang dirasakan bahkan banyak yang berujung dendam. Untuk laki-laki jantan di luar sana, pacaran bukan jaminan kalian bersama di pelaminan, jika memang kamu yakin, datangi orang tuanya, nyatakan keseriusanmu pada walinya, lamar! Tak ingin cerita diatas jadi salah satu episode kelam hidupmu karena kamu telat melamar, kan ? Percayalah bahwa perempuan baik akan mencintaimu berkali lipat ketika kamu mendatangi orang tuanya dan meminta izin untuk menjadikannya pilihan terbaikmu.

Bahwa siap menikah itu bukan soal seberapa banyak tabunganmu atau seberapa cemerlang karirmu, menikah adalah merelakan hatimu untuk beribadah kepada Tuhan demi menyempurnakan agamamu. Ketika Tuhan menjadi tujuanmu, maka Tuhan akan memudahkanmu. Seorang yang bergaji 1,5 juta dan hanya memiliki sebuah studio mini tempatnya mencari nafkah saja berani memutuskan untuk menikah demi menyempurnakan agamanya, bagaimana dengan kalian yang bergaji dua, tiga, empat, bahkan lima kali lipat serta menghuni gedung-gedung besar di ibu kota ? Bagaimana dengan career path-mu yang terjamin di tempatmu bekerja ? Tidak ada kita belum siap, yang ada hanya sudah atau belum kita meyiapkan diri menjemput jodoh.

Perempuan baik di luar sana, tak usah khawatir dengan siapa kalian berjodoh, Tuhan tak mungkin ingkar dan jodoh tak mungkin tertukar. Jodoh tertukar itu hanya ada di FTV. Laki-laki baik untuk perempuan baik adalah janji-Nya, yang kalian butuhkan adalah percaya bahwa Tuhan akan mempertemukan kalian dengan dengan laki-laki yang kadar imannya setara. Maka, perbaikilah diri sebaik mungkin. Juga tak usah menuntut pernikahan yang mewah, cukup cinta kalian saja yang megah.

Saya sudah melewati etape hidup sebagai seorang remaja penuh romansa, dan sekarang sedang menapaki etape sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga. Pada kesempatan ini saya ingin memberikan pengakuan bahwa pacaran setelah menikah itu nikmat sekali, sumpah! demi Allah! Tak bisa saya jabarkan bagaimana nikmatnya karena memang tak bisa diterjemahkan dalam kata-kata. Subhanallah, wal Hamdulillah.

Salam

@muhamyakbar

Ketemu Langsung Lamaran, Lanjut ke Pelaminan (Part.2)

Me and My Wife

Me and My Wife

Nurlia Erfani adalah gadis kelahiran Slawi, Kabupaten Tegal. Rumahnya berjarak tempuh kurang lebih 30 menit dari rumah saya. Mahasiswa jurusan Desain Tekstil Universitas Sebelas Maret, Solo ini punya Passion di bidang tata busana sekaligus menjadikannya entrepreneur di bidang serupa, lebih spesifik di bidang fashion muslimah. Sementara dia tinggal di Solo untuk menyelesaikan studinya yang sempat cuti demi berwirausaha, saya menetap di Semarang selepas studi saya di Universitas Diponegoro untuk nekad membangun bisnis sendiri, membuat studio desain grafis.

Tidak sulit sebenarnya menjatuhkan pilihan pada Lia, perkara yang lebih rumit adalah meyakinkan, terutama meyakinkan diri sendiri dan orang tua. Meyakinkan diri sendiri sebenarnya tidak begitu kompleks, mudah mengindikasinya. Bagi saya, lebih taat beribadah jadi indikator keyakinan paling penting. Ketika kami berdua merasakan Tuhan turun tangan, maka selesai sudah personalan meyakinkan diri sendiri.

Pertemuan Pertama

Setelah aksi ‘nekad’ saya yang berencana melamar Lia bulan depan, dia meminta untuk saya menemuinya di stasiun Poncol Semarang karena dia sedang transit untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Slawi menggunakan kereta. Ini adalah pertemuan pertama kami selama enam tahun dan pertemuan pertama kami setelah saya menyatakan akan melamarnya. Betapa canggung kami berdua di tengah keramaian stasiun, tak berani menatap satu sama lain, hanya perbicangan soal keseriusan masing-masing yang terlontar malam itu. Jangankan menatap, kami pun harus duduk berjarak karena gugup. “Mas serius sama Lia ?” begitu tanyanya, “Masa soal beginian Aku bercanda” jawab saya singkat. Akhirnya pertemuan singkat kami akhiri dengan dia meminjamkan sebuah buku berjudul “Di Jalan Dakwah Aku Menikah” karya Cahyadi Takariawan. Buku itu yang saya jadikan panduan ketika mempersiapkan pernikahan.

Selepas kami mengakhiri pertemuan, kami kembali mempertanyakan keyakinan masing-masing, dan kami menyatakan semakin mantap dan yakin. Persoalan keyakinan kami berdua selesai.

Bagaimana dengan Orang Tua ?

“Ridho Allah terletak pada ridho orang tua, dan murka Allah terletak pada murka orang tua”. Ini prinsipnya. Begitu juga urusan jodoh, saya yang seorang family man tidak mungkin mengesampingkan restu orang tua, bagi saya ini sakral karena menyangkut restu orang tua.

Tidak lama setelah pertemuan kami di stasiun, saya pulang kampung untuk menceritakan semuanya kepada orang tua, terutama kepada Umi (re : Ibu). “Intinya Umi pengen ketemu dulu sama calonmu”, begitu reaksi pertama setelah mendengar cerita saya panjang lebar. Keesokan harinya, saya mengajak kedua orang tua saya berbelanja ke daerah sekitar Slawi, selesai berbelanja, saya ajak mereka sholat Dhuhur di Masjid yang tidak jauh dari rumah Lia, skenario itu saya atur untuk mempertemukan orang tua saya dengan Lia, dan Lia pun bersedia untuk menemui mereka. Selesai sholat, bertemulah orang tua saya dengan Lia. Pertemuan kami sederhana, sekedar berbincang tentang keluarga dan kehidupan kampusnya. Saya tak banyak bicara disana, selain karena takut Orang tua tidak ‘sreg’ dengan Lia, saya membiarkan Mereka mendalami karakter perempuan pilihanku.

Direstui atau Tidak ?

Dalam perjalanan pulang dari pertemuan tersebut, saya dengan rasa takut bercampur penasaran menanyakan pendapat mereka. “Gimana menurut Umi sama Abi (re : Bapak) ?” Tanyaku singkat sembari memasrahkan hasilnya kepada mereka, Ibarat Indonesian Idol, ini pengumuman eliminasi. Menegangkan tapi keputusannya harus diterima. “Insha Allah Umi setuju” jawab Umiku sambil melempar senyum manisnya. Melegakan! Langsung saja saya peluk Umiku dan kucium pipi kanan kirinya penuh keharuan. Akhirnya restu didapat! Sungguh Allah sedang berperan menggerakkan hati orang tuaku. Subahanallah.

Restu Sudah Didapat, Lalu ?

Tahap berikutnya yang harus dilalui adalah merealisasikan janji untuk mengkhitbah. Namun dari hasil diskusi kami dengan keluarga, mereka menyarankan untuk tidak perlu buru-buru mengkhitbah, kita rencanakan dulu kunjungan yang matang. Tapi menurut saya ini bukan soal buru-buru, tapi mengkhitbah merupakan proses penting dalam sebuah rencana pernikahan. Saya membayangkan kalau saya sudah yakin, orang tua sudah merestui, kemudian ada laki-laki lain yang entah dari mana melakukan kunjungan ke keluarga Lia, mengkhitbah terlebih dahulu, dan orang tua Lia menerima pinangan tersebut, dan itu berarti saya tidak bisa melakukan apa-apa, proses ta’aruf kami terhenti karena pihak ketiga. Bayangan itu terus menghantui dan lantas memaksa saya mengungkapkan kemungkinan terburuk ini. Begini kira-kira saya melobi Umi untuk segera mengkhitbah Lia. “Mi, apa nggak sebaiknya kita ngelamar dulu biar nggak keduluan orang lain ? Kan kita nggak tahu siapa aja yang suka sama Lia. Sekarang bayangin kalo tiba-tiba ada laki-laki lain ngelamar Lia, terus orang tuanya setuju, kita bisa apa ? Kan orang yang lagi dilamar nggak boleh menerima lamaran dari pihak manapun. Artinya perjuangan Akbar sia-sia dong” cerita saya meyakinkan. Nampaknya tidak sia-sia saya kuliah di komunikasi, saya khatam mempersuasi Umi. “Oh, gitu ya ? yaudah mas, jangan kelamaan, kalo bisa khitbah dulu”, begitu jawab Umi terprovokasi anak pertamanya. Rencana untuk menunda khitbah atau meminang (biasa orang menyebut melamar) dibatalkan dan kita dengan cepat merancang strategi supaya lamaran saya diterima.

Khitbah

Kurang lebih sebulan setelah saya menyatakan niat untuk mengkhitbah, saya merealisasikan niat tersebut dan berkunjung ke rumah Lia untuk mengutarakan niat baik saya tersebut.

Bagaimana proses mengkhitbah dan bagaimana reaksi orang tua Lia saat menjamu kami sekeluarga ? Inshaa Allah Saya tuangkan di bagian ketiga.

Ketemu Langsung Lamaran, Lanjut ke Pelaminan (Part.1)

Me and My Wife

Me and My Wife

Menikah itu ternyata hanya soal mental. Paling tidak ini yang saya rasakan ketika sudah sah menjadi suami dari Nurlia Erfani (Lia, begitu teman-temannya menyapa), perempuan yang saya persunting pada 22 Juli 2015 kemarin. Bagi kami yang menikah tanpa melalui proses -apa yang disebut dengan- pacaran, tentunya menjadi cerita unik yang kali ini ingin saya bagi kepada pembaca. Semoga pernikahan kami bermanfaat dan menjadi jalan dakwah.

Awal Pertemuan

Sungguh Allah mempertemukan kami dari jalan yang tidak pernah disangka sebelumnya. Facebook, di jejaring itulah kami dipertemukan kembali setelah kurang lebih enam tahun lamanya tidak pernah berkomunikasi. Lia adalah teman baik temanku, kami berbeda sekolah dan tak pernah satu almamater. Kami pernah bertemu saat kelas X SMA dan terakhir kali bertemu menjelang kenaikan kelas XII. Pertemuan kami tidak lebih dari pertemuan biasa, sebatas saling kenal nama dan sekolah masing-masing.

Enam Tahun Kemudian

Usut punya usut, ternyata kami berteman di jejaring sosial bernama facebook. Saling ‘like’ dan mengomentari postingan masing-masing, itulah yang kami lakukan saat itu, postingan kami tidak lebih dari sekedar menyebarkan kebaikan dan berbagi nilai positif.

Mak Comblang

Menjelang akhir tahun 2014, dalam masa mencari jodoh, saya menyukai seorang adik kelas waktu SMA, dia sekretaris OSIS pada masa jabatan saya sebagai ketuanya. sebut saja Dini yang kebetulan satu kampus dengan Lia. Jadilah saya meminta tolong Lia untuk menjadi perantara kami berta’aruf (re : saling mengenal). Dari sana komunikasi saya dengan Lia semakin intens karena kami bersama-sama meracik strategi supaya proses ta’aruf saya dengan Dini berjalan mulus. Namun ekspektasi tidak sesuai dengan kenyataan, proses ta’aruf jalan di tempat karena kami tidak satu visi, lain frekuensi, dan saya memprediksi ini tidak akan berjalan sesuai rencana.

Nekad ? Mungkin

Tidak seperti proses ta’aruf yang mandeg, komunikasi saya dengan Lia justru makin menjadi, kami saling mengingatkan soal-soal ibadah, dan berbagi ilmu agama. Sampai pada suatu waktu saya menanyakan perihal siapa calon pendamping Lia via layanan pesan singkat (SMS) ? Pasti beruntung dia memiliki calon istri sholehah sepertinya, begitu kata saya dalam hati. Waktu itu kira-kira jawabannya begini “Lia sih nunggu aja ada laki-laki yang serius untuk bilang langsung ke Papa”. Entah kenapa adrenalin saya terpacu kencang, keberanian memuncak dan kukirim balasan yang bunyinya “Owh, yaudah bulan depan Aku khitbah kamu, Aku akan datang bersama keluarga”. Lebih dari satu jam saya tidak mendapat balasan. Dugaan saya antara dia mendadak pingsan atau histeris kesurupan. Tapi untungnya tidak keduanya, dia membalas singkat mempertanyakan keseriusan. Saya langsung tegaskan saat itu juga bahwa saya serius, saya tidak sedang mencari pacar, tapi saya mencari istri, saya menawarkan untuk kami berta’aruf untuk mengenal karakter masing-masing dan dia meminta waktu untuk sholat istikhoroh meminta petunjuk kepada sang empunya cinta.

Sebagai catatan, saya menyampaikan niat untuk mengkhitbah (melamar) Lia dalam kondisi belum mengkomunikasikannya dengan orang tua, entah mereka setuju atau tidak saya tak tahu. Satu hal yang pasti bahwa apabila orang tua saya setuju, semua akan baik-baik saja, tapi kalau tidak ? Bye! Bubar jalan, tidak ada lagi istilah ta’aruf antara saya dan Lia. Selesai.

Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana perasaan saya ketika hendak menyampaikan niat mengkhitbah ? saya bisa katakan saya cuma punya satu kata, YAKIN. Hanya keyakinan saya saja yang menguatkan keberanian saya untuk menkhitbah, bahwa Lia adalah istri sholehah yang bisa menjadi pendamping hidup terbaik. Baru belakangan saya tahu bahwa YAKIN adalah level tertinggi dari CINTA, karena yakin melibatkan iman, dan iman erat kaitannya dengan Tuhan.

Bersambung…

 

Networking is Investment

Komunitas Jaringan RumahUSAHA bersama Sandiaga Uno

Dari Anas bin Malik RA berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang ingin rizqinya diperluas dan umurnya ditambah, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Nilai-nilai bersilaturahim ini saya dapatkan dari Abi (re:Ayah). Sewaktu kecil, saya sering diajak berkeliling desa hanya untuk mengunjungi kolega-kolega Abi. Entah apa hubungan dengan keluarga kami, yang saya tahu, Abi begitu akrab dan cair membicarakan banyak hal.

Apa yang sejak dulu ditanamkan orang tua saya ternyata membekas sampai sekarang. Semasa kuliah, saya aktif berorganisasi. Salah satu yang banyak merubah cara pandang saya adalah AIESEC. Salah satu organisasi internasional yang memiliki jejaring di lebih dari 110 negara. Peran terakhir saya di AIESEC pada tahun ketiga kuliah di Undip adalah sebagai Vice President of External Relations, yang mana salah satu fungsinya adalah membangun jejaring dengan stakeholder. Saat itu, mayoritas kegiatan saya adalah banyak bertemu orang baru, apapun profesi dan latar belakangnya. Niat saya pada waktu itu sederhana, yang penting saya bisa jaga silaturahim dengan orang-orang yang saya temui, Inshaa Allah apapun yang saya kerjakan berkah dan bernilai.

Menjaga silaturahim berbeda dengan ‘sekedar’ berkenalan dengan orang baru, memanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau organisasi dan di kemudian hari dilupakan karena ‘sudah tidak butuh’ (ini masih sering saya temui di beberapa organisasi termasuk AIESEC). Percayalah bahwa menjaga networking itu punya nilai lebih. Saya mengalaminya. Waktu menjabat sebagai VP External Relations, saya berkenalan dengan salah satu tokoh wirausaha di Semarang. Beberapa kali saya datang ke forum-forum yang beliau dan komunitasnya selenggarakan. Mulailah kami sering bertegur sapa di forum dan berlanjut ke media sosial twitter.

Singkat cerita setelah saya purna tugas di AIESEC, di beberapa kesempatan saya menghadiri forum dimana beliau sebagai narasumber. Karena ketertarikan saya dengan dunia kewirausahaan, mencobalah saya bertukar pandang dengan beliau, sekali dua kali bertandang ke rumah beliau, saya memutuskan untuk bergabung dengan komunitas yang beliau dirikan beberapa tahun silam. Saat ini, beliau adalah mentor sekaligus yang ikut memodali saya berbisnis yang saat ini menjadi keran rejeki untuk saya dan karyawan kami di DIJIMEDIA Studio Komunikasi Visual, bisnis yang saya rintis setahun lalu. beliau adalah iLik sAs dan komunitas Jaringan RumahUSAHA-nya.

Jalin dan Jagalah Silaturahim.

Tuhan tak pernah ingkar janji bagi mereka yang meyakini.

Connecting the Dots

Logo DIJIMEDIA Visual Communication Studio

Logo DIJIMEDIA Visual Communication Studio

Malam ini saya ingin berbagi pengalaman seputar apa yang saya lakukan sekarang dan korelasinya dengan masa lalu dan masa depan. Karena entah kenapa semuanya terkoneksi, seperti titik yang terhubung garis, persis apa yang dikatakan Steve Jobs beberapa tahun silam dalam pidatonya tentang ‘Connecting the Dots’

SMP – Pertama kali mengenal Microsoft PowerPoint

Sekolah di pondok pesantren modern memperkenalkan saya dengan komputer dan aplikasi karya Microsoft. Seperti layaknya kursus komputer, pertama kali saya diajarkan mengoperasikan Microsoft Word sebagai ketrampilan dasar. Ketika guru menerangkan fungsi-fungsi toolbar, dengan asaiknya saya mengotak-atik aplikasi lainnya yang saat itu teman saya yang jago komputerpun tak tahu apa fungsinya, Microsoft PowerPoint. Dugaan awal saya itu alat membuat kartu nama karena bentuk slide yang hampir serupa dengan bentuk kartu nama yang saat itu sangat populer. Dengan bangganya saya membuat satu slide berisi identitas saya dan sebuah gambar harimau di sampingnya. Itulah perkenalan pertama saya dengan Microsoft PowerPoint.

Kuliah Komunikasi – Tugas Presentasi

Saya bersyukur bisa masuk jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang yang konon favorit untuk siswa jurusan IPS. Karena hampir setiap mata kuliah kami diberi tugas untuk membuat presentasi, bahkan ini menjadi makanan kami ketika UTS maupun UAS. Singkat cerita, menjelang semester 4 dan seterusnya, mayoritas ujian kami adalah model take home, artinya ujian tidak dilakukan secara tertulis di kelas, melainkan membuat sebuah project atau gagasan tentang implementasi strategi komunikasi secara berkelompok. Saya sebagai mahasiswa yang aktif berorganisasi terkadang harus menyiasati waktu untuk mengerjakan tugas kelompok ini. Tak habis akal, saya terlibat aktif di pertemuan pertama untuk berdiskusi tentang strategi, dan dengan sukarela menawarkan diri untuk membuat presentasi dengan jaminan presentasi yang saya buat memuat faktor WOW alias memukau.

Bagaimana kabar pertemuan kelompok berikutnya ? Saya kebanyakan izin untuk berorganisasi atau kadang datang menyusul yang penting saya tahu strateginya, soal detail bisa saya baca sambil saya bikin presentasi (logikanya, bikin presentasi nggak sekedar copy-paste text yang ada di Microsoft Word kan ?). Saat membuat presentasi saya dengan detail membaca dan mencermati point penting yang ditulis teman-teman dan kadang saya bisa menghabiskan waktu semalaman untuk mendesain presentasi tersebut sebagai bentuk pelunasan janji saya kepada teman sekelompok. Keesokan harinya ketika waktu presentasi (saya dan kelompok sudah terbiasa dengan bekerja mepet deadline) teman-teman banyak menunjuk saya untuk memaparkan presentasi karena alasan sederhana, “udah Bar, kamu aja yang presentasi kan yang tau point presentasinya kamu”. Begitu kira-kira yang mereka katakan. Tapi percaya atau tidak, semua tugas kelompok yang melibatkan presentasi kami mendapatkan nilai A.

Setelah Lulus kemana ?

Ini pertanyaan klasik, saya sering dianggap “tidak keren” oleh teman seangkatan, teman organisasi, senior, bahkan tetangga atau saudara karena pilihan karir yang saya ambil (Secara sarjana Ilmu Komunikasi tapi ujung-ujungnya ‘cuma’ bikin bisnis). Tapi untungnya anggapan tersebut tak berpengaruh pada apapun keputusan saya, termasuk memilih jalan ini. Ya, saya memilih membuat usaha saya sendiri, dengan modal laptop dan koneksi internet serta dukungan dari mentor dan saudara-saudara saya di komunitas Jaringan RumahUSAHA (silahkan buka http://www.rumahusaha.net) , saya membuat usaha dengan nama DIJIMEDIA sebuah Studio Komunikasi Visual yang diawal berdirinya (April 2014) mengerjakan pekerjaan membuat presentasi untuk klien dari luar negeri. Sampai detik ini, apa yang saya mulai setahun yang lalu mulai berbuah manis, saat ini saya memiliki dua orang karyawan dan jenis pekerjaan kami kerjakan lebih variatif serta Alhamdulillah sampai detik ini klien kami berasal dari di 30 negara di dunia dan tersebar di lima benua.

Pada titik ini, saya mulai menyadari bahwa skenario Tuhan indah pada waktunya. Bahwa apa yang saya jalani dengan hati bisa menjadi lahan mencari rejeki. Kata Ridwan Kamil (Wali kota Bandung) pekerjaan yang paling membahagiakan adalah hobi yang dibayar. Saya sepakat dengan ini. Bahwa saat ini, kiranya tidak berlebih apabila saya mendeskripsikan hidup saya dengan satu kata. “BAHAGIA”. Alhamdulillahi robbil’alamiin.