Saatnya Pemuda Berjihad Ekonomi, Berhijrah Mental (Mimpiku untuk Tegal Berdaya)

Sabtu Pagi, menikmati suasana rumah sambil menonton TV, tiba-tiba di Trans 7 ada tayangan Wanita Inspirasi Tupperware She Can! Dan ketika itu Episode yang menurut saya sangat menyentuh dari Farha Ciciek seorang perempuang penggagas komunitas belajar desa Ledokombo, Jember, Jawa Timur. Sempat saya terenyuh ketika Bu Farha yang memiliki mimpi untuk anak-anak desa Ledokombo untuk merdeka secara mental dari keterjajahan masa lalu desa Ledokombo yang mendapatkan cap miring bahkan dari masyarakatnya sendiri.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya mengetahui Bu Farha, pada waktu Temu Nasional Asosiasi Kewirausahaan Nasional Indonesia di Semarang saya sempat datang dan mendengarkan pemaparan beliau mengenai Komunitas Tanoker, tapi entah kenapa saya merinding mendengarkan beliau memaparkan untuk kedua kalinya bagi saya di TV.
Saat itu juga terlintas di benak akan tempat dimana saya tinggal, desa Margasari, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal. Perlu saya ceritakan bahwa secara geografis, Kecamatan Margasari merupakan kecamatan paling ujung barat dari kabupaten Tegal, dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Brebes. Kecamatan Margasari termasuk dataran rendah dan dipadati penduduk yang tersebar di 13 desa. Mayoritas wilayahnya adalah wilayah pedesaan yang dihiasi persawahan, bukit-bukit kecil, dan hutan jati. Jadi Margasari itu memang masih alami dan sejuk.

Akses untuk ke Margasari saat ini sudah termasuk sangat mudah. Walaupun jarak dari beberapa tempat strategis lumayan jauh, namun transportasinya dapat dijangkau, karena Margasari ini adalah salah satu wilayah yang menghubungkan Purwokerto dengan Tegal. Jarak dari Margasari ke kabupaten Tegal bisa ditempuh sekitar 45 menit, sedangkan ke kota Tegal dapat ditempuh sekitar 75 menit menggunakan transportasi umum. Sekitar 90 menit ke Objek Wisata Guci, Kab. Tegal, dan 120 menit ke Kebun The Kaligua, Brebes.

Secara Sosial Masyarakat, Masyarakat Margasari adalah petani, buruh tani, dan pedagang. Karena potensi ekonominya masih kurang dan masih terbatas pada industri tersebut. Belum banyak Usaha Rakyat yang menjadi andalan masyarakat Margasari. Oleh karena itu, banyak masyarakat Margasari yang memilih merantau ke kota besar seperti Jakarta dan Bandung untuk mencari sesuap nasi. Sampai kalau tidak salah ada paguyuban masyarakat margasari yang merantau ke Jakarta. Hal ini tidak terkecuali yang menimpa pemuda Margasari. Mereka lebih memilih untuk mencari pekerjaan di Jakarta walaupun disana juga belum tentu hidup layak dan haru menjadi budak pabrik-pabrik raksasa. Tapi itu kenyataan dan pilihan yang harus mereka pilih dan jalani.

Sedangkan bagi saya, tidak pernah terpikir sama sekali untuk mencari pekerjaan di Jakarta, entah kenapa bagi saya Jakarta merupakan kota yang dipadati dengan segudang tekanan, permasalahan, dan kepenatan. Tidak bisa terbayang bagi pemuda Margasari yang notabene secara pendidikan tidak begitu memadai justru berjuang mencari sesuap nasi di ibu kota.

Dalam hati sebenarnya miris, melihat pemuda harapan bangsa dari Margasari menjadi perantau. Harus menghadapi kerasnya Jakarta, penatnya Ibu Kota, dan menjadi buruh bagi pabrik-pabrik rakasasa, menjadi antek korporasi besar di Ibu Kota, sedangkan tempat mereka tinggal menjadi seonggok wilayah yang sepi, belum berkarakter, dan membutuhkan innovator muda seperti mereka. Belum lagi harus jauh dari keluarga dan sanak saudara, walaupun setiapmbulan mungkin kirim uang untuk mereka yang ada di desa, tapi pertemuan menjadi sesuatu yang mahal harganya dan hanya bisa dilakukan setahun sekali ketika mudik lebaran, itupun bukan tanpa perjuangan. Membayangkan kepadatan arus lalu lintas ketika Iedul Fitri saja sudah menjadi tolak ukur bahwa penghuni Jakarta adalah mereka orang desa, termasuk orang-orang Margasari.

Inilah mental yang harus dibenahi bagi warga Margasari. Mental anti sentralisasi Jakarta, mental untuk berjihad secara mandiri di desa sendiri. Margasari butuh anak-anak muda yang hebat yang mungkin sekarang sedang diperbudak perusahaan raksasa di Ibu Kota, Margasari butuh anak muda yang sanggup berhijrah mental melawan dikdaya Jakarta, Tegal butuh orang-orang brutal secara financial. Mereka yang kaya di Jakarta, mari bali ndeso mbangun ndeso, mari pulang, lihat Margasari, seonggok wilayah yang siap maju, lihat Tegal yang butuh dorongan untuk maju. Mereka yang sengsara di Jakarta, yuk, pulang saja, mari kita berdaya dan saling memberdayakan bareng-bareng, tidak usah kita lanjutkan kesengsaraan kita di Ibu Kota, Tegal butuh kalian, Margasari butuh kalian, yuk bareng-bareng mbangun Tegal, mbangun Margasari.

Inilah yang menjadi cita-cita dan mimpi saya, sederhana saja, suatu saat saya ingin menjadi penggerak mental anti Sentralisasi Jakarta, menjadi motor kemandirian anak muda penerus bangsa yang think global act local, saya ingin menjadi pemberdaya masyarakat Tegal, dengan berdaya kita MERDEKA!

Tuhan, apabila jalan ini baik untukku, maka tuntunlah..
Apabila ini menjadikanku manfaat bagi orang lain, maka kuatkanlah…
Kuatkan langkah untuk menjaga idealisme ini sampai kapanpun karena saya yakin Ayatmu tak mungkin ingkar, untuk menjadikan menjadikan kebaikan dan kebermanfaatan, dibutuhkan niat tulus karena saya yakin saya sedang berada pada cara pikir yang benar, jalan pikir bersama ayat-ayat-Mu.
Tuntun dalam jalan yang Engkau Ridhoi, untuk menjadikanku manfaat bagi sesamaku dan mengajak mereka menjadi manfaat untuk sesamanya, untuk berdaya agar bisa memberdayakan sesama, untuk merdeka agar bisa memerdekakan sesame, untuk berjihad secara ekonomi, hijrah secara mental.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s