Potret Pendidikan di Indonesia (Jilid 1)

Banyak orang bahkan pengamat menganggap system pendidikan di Indonesia carut marut. Pro dan kontra wajar, tapi saya termasuk yang mengamini statement tersebut. Walaupun saya bukan pengamat dan bukan pula praktisi, tapi saya coba berbagi opini saya tentang dunia pendidikan lewat tulisan ini.

Kerap kali berdiskusi dengan orang tua yang notabene mantan guru dan Kepala Tata Usaha di sebuah Madrasah Tsanawiyah, mentor-mentor yang juga prihatin dengan dunia pendidikan di Indonesia serta beberapa rekan yang sepahan maupun berbeda pemahaman tentang dunia pendidikan di negeri kita tercinta.

Yuk, mari kita simak kesalahkaprahan sekolahan kita dari Play Group sampai Perguruan Tinggi.

  • Seharusnya sekolah itu menekankan pada pendalaman kompetensi siswa, bukan mencampuradukkan kompetensi dengan segala macam kurikulum yang justru membuat siswa bingung, terbebani, dan bahkan anti dengan mata pelajaran tertentu. Misal sekarang ini ada banyak siswa yang anti pelajaran kimia, karena mereka merasa mereka tidak memiliki passion dalam mata pelajaran kimia., tapi mau tidak mau harus dijalani karena menjadi salah satu mata pelajaran yang diujikan dan menentukan kelulusan. Mereka yang menemukan passion dan bakat mereka justru tidak terfasilitasi. Misal seorang siswa berbakat untuk melukis, dan dia sadar bahwa melukis adalah passion-nya, tapi karena jam pelajaran yang padat, belum lagi ada jam tambahan menjelang UN dia tidak punya waktu untuk mengembangkan bakat dan menyalurkan passion-nya. Bukankah ini sama saja dengan membunuh karakter ? Menenggelamkan bakat ? Meniadakan passion ?

 

  • Kelulusan tingkat SD, SMP, dan SMA yang hanya ditentukan oleh Ujian Nasional. Ini menurut saya seperti efek domino bagi sejumlah permasalahan pendidikan di Indonesia. Bagi siswa, UN merupakan hal yang menakutkan, karena siswa takut tidak lulus apabila tidak mencapai batas nilai tertentu. Akibatnya banyak siswa yang melakukan kecurangan alias menghalalkan segala macam cara untuk lulus, termasuk membeli jawaban dengan harga mahal, mencontek (yang sekarang ini modusnya sudah semakin canggih, dari main kode sampai buka blackberry). UN ternyata juga menakutkan bagi guru-gurunya dan Kepala Sekolah. Karena reputasi dan nama baik guru mata pelajaran, wali kelas, dan Kepala Sekolah dipertaruhkan apabila ada siswanya yang tidak lulus. Akibatnya banyak guru yang justru menjadi imam dalam jamaah kecurangan UN, dari mulai membelikan jawaban, memberikan jawaban, mencuri kunci jawaban dan sederet kecurangan yang dilakukan sang guru.
source : ryanbian.blogspot.com

source : ryanbian.blogspot.com

  • Dari Ujian Nasional, mari kita simak fenomena pasca pengumuman hasil UN, mereka yang lulus, berpesta pora layaknya pribadi merdeka setelah perang seabad, sayangnya kadang salah caranya, fenomena coret-mencoret seragam, konvoi dijalan, serta pesta miras hingga nyabu. Yang tidak lulus ? Seakan dunia kiamat, bunuh diri, dendam kepada guru, hingga membakar sekolah. Yang lucunya adalah kadang ada siswa yang kesehariannya bejat justru nilainya maksimal, yang kesehariannya rajin justru terperosok di jurang ketidaklulusan. Miris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s