Cerita Ramadhanku

Bagi umat muslim sedunia, Ramadhan merupakan bulan yang sangat ditunggu. Saya-pun begitu. Nikmat rasanya bisa bertemu bulan penuh berkah kembali. Tapi, saya mau sedikit bercerita tentang Ramadhan di desa. Ini sebagai refleksi kerinduan saya yang sudah empat tahun merantau akan indahnya Ramadhan di desa.

Jujur bila dihadapkan pada pilihan dimana kita menghabiskan Ramadhan, satu-satunya jawaban adalah saya memilih menghabiskannya di desa. Tepatnya desa saya sendiri, desa Margasari, desa yang terletak di kecamatan paling barat Margasari, berbatasan dengan Kabupaten Brebes. Paling tidak ada beberapa alasan :

1. Tiap kali Ramadhan di desa, setiap pagi dari saya kecil dulu selalu menghabiskan waktu setelah sahur di masjid mendengarkan kuliah subuh. Walaupun kadang lebih sering mengantuk, tapi kuliah subuh adalah charger iman paling pagi di bulan Ramadhan

2. Selepas kuliah subuh (kalau waktu kecil biasanya kita antre meminta tanda tangan penceramah di buku Ramadhan pemberian sekolah), biasanya saya dan teman-teman menghabiskan waktu jalan pagi menyebrangi sawah pedesaan, kadang juga sampai ke bukit, selepas itu kita akhiri dengan berbincang di rel kereta api yang ada diantara puluhan petak sawah.

3. Pagi hari kami lanjutkan mengaji, biasanya kami mentarget untuk bisa khatam Al Qur’an 30 Juz, walaupun sering tidak khatam sampai akhir Ramadhan, tapi kegiatan itu rutin kami lakukan.

4. Biasanya di awal Ramadhan, kami selekuarga shalat Maghrib berjamaah, kemudian muhasabah, dilanjutkan saling meminta maaf, supaya ibadah Ramadhan lebih khusyuk, ini sudah jarang kita lakukan semenjak anak-anak Umi sama Abi merantau.

5. Sore hari, kadang kita habiskan waktu untuk pergi ke rel kereta api dekat rumah, sekedar bercengkrama sambil ngabuburit. Kadang ikut kuliah Ashar, tapi paling rutin bantu orang tua siapkan menu buka puasa, saya paling rajin kalau disuruh buat es buah. Biasanya porsi saya setengah lebih banyak dari yang lain, hehehe…

6. Ini yang unik di desa saya, kalau kebanyakan anak-anak berbondong-bondong ke masjid untuk sholat Tarawih, di desa saya ada istilah TARSUSNAK (Tarawih Khusus Anak-anak). TARSUSNAK ini diadakan bertujuan untuk melatih anak-anak melakukan sholat dengan benar, diadakan dirumah warga (sekitar 13 rumah warga di masing-masing RW kita tempati, biasanya kami sebut majelis) Dengan mengumpulkan puluhan pemuda desa untuk jadi pembina, dan puluhan anak kecil (SD sampai SMP) jadi jama’ahnya di masing-masing majelis. Di Tarsusnak ini selain sholat jama’ah Tarawih, juga ada Tausyiyah oleh masing-masing kakak pembina. Kegiatan itu konsistem kami lakukan selama sebulan penuh, Saya pernah jadi pembina selama 5 tahun, hehehe…

7. TARSUSNAK itu di pertengahan Ramadhan selalu menyelenggarakan lomba antar majelis, sekitar 13 majelis yang ada kita lombakan perlombaan yang berkaitan dengan agama, misal Tilawah, Kaligrafi, sholat jama’ah, tahfidz, pidato, cerdas, cermat, sampai nasyid. Nanti jurinya adalah kakak pembina itu tadi.

8. Selain lomba, ada juga Takbir keliling menjelang Iedul Fitri, kami mengitari seluruh desa menyalakan obor, sambil meneriakkan Takbir, itu membuat saya merinding.

10. Setelah lebaran biasanya ada semacam Halal bi Halal, itu kami kemas seperti Awards bagi pemenang lomba yang kita adakan di pertengahan Ramadhan itu.

Semua hal diatas membuat saya rindu Ramadhan di desa. Ini cerita Ramadhanku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s