“Mahasiswa Demo ? Masih Jaman ?”

Akhir-akhir ini lagi semangat buat nulis, entah kenapa, semua ide, gagasan, dan hasil pemikiran maupun cerita ingin tertuang ke dalam rangkaian huruf yang membentuk tulisan. Sekarang yang ingin saya bagikan adalah pemikiran serius saya tentang kondisi dunia mahasiswa saat ini.

Beberapa waktu lalu, saya melihat aksi demonstrasi di depan kantor Gubernur Jawa Tengah dan berbagai macam aksi demonstrasi lainnya di media, sebenarnya demonstrasi bukan lagi menjadi aktifitas yang asing bagi aktifis mahasiswa. Mungkin beberapa organisasi tidak bisa dikatakan eksis kalau belum demo. Sedikit menengok sejarah, mahasiswa dan demonstrasi memang punya sejarah penting terhadap peradaban bangsa ini. Tengok saja di tahun 60an ketika mahasiswa mengajukan konsepsi tritura, dan secara tidak langsung ikut menggoyang kursi kepemimpinan Soekarno. Kekuatan Militer saat itu berkuasa, berharap pada perbaikan kondisi sosial ekonomi selama orde baru, rezim Soeharto-pun berkhianat. Kebebeasan dibungkam, diktator menguat. Mahasiswa tak mau tinggal diam, Reformasi bergejolak. Demostrasi akbar terselenggara di berbagai sudut negeri, tak terkecuali Ibu kota. Sekali lagi, Mahasiswa dan Demonstransi jadi titik balik sejarah.

Reformasi telah usai, tak ada istilah orde lama atau orde baru, yang kami tahu adalah pelunasan janji kemerdekaan bagi semua warga negara. Indonesia menapaki babak baru demokrasi. Masih relevan-kah demonstrasi ?

Ini pertanyaan klasik, “hari gini, demo ? Masih jaman ?”. Ini juga yang saya pertanyakan sampai saat ini, melihat demonstrasi yang kadang ditunggangi dan tak tau esensi bahkan terkadang anarki, rasanya hanya buang energi. Paling tidak ada beberapa pertanyaan yang terngiang ketika mendengar kata mahasiswa demo.

  • Apa sih tujuan mereka demo ? Supaya Pemerintah mau mendengarkan aspirasi ? dakah cara yang lebih bijak dan efektif daripada berteriak, turun ke jalan ? bakar ban ? kadang jadi sumber kemacetan ? Misal dengan audiensi langsung dengan pemerintah, berdiskusi memberi solusi, bahkan bisa sambil menjalin relasi.
  • Apakah demo sebagai salah satu Cara meluapkan emosi ? Adakah cara ber-emosi yang lebih elok ? Misalnya BERBUAT sesuatu yang NYATA, seperti tuntutan kenaikan harga BBM, kenapa tidak diganti dengan kampanye sosial anti BBM bersubsidi, atau masalah Uang Kuliah Tunggal, kenapa tidak diganti dengan pengawalan ketat UKT agar tepat sasaran. Atau menciptakan lapangan kerja untuk mahasiswa yang membutuhkan tambahan uang saku, dll.
  • Apakah demo hanya untuk mengkritik pemerintah ? Bisakah mengkritik disertai dengan alternatif solusinya ? Tujukan itu pada pemerintah dengan cara yang santun, kalau memang mereka tak menerima kritik itu apakah tidak ada alternatif lain untuk mengatasi masalah yang kita angkat dalam demo ?
  • Apakakh berdemo itu salah satu aksi menuntuk pemerintah untuk berbuat ini, itu, dan lain sebagainya yang berpihak pada rakyat ? Adakah hal yang lebih keren dari sekedar menuntut perubahan ? Tak bisakah anak muda menciptakan perubahan ? Tak bisakah kita merevisi cara pikir kita terlebih dahulu sebelum menuntut pemerintah ?

Selebihnya, tulisan ini hanya bagian dari sudut pandang saya, setelah ini biarkan mereka (mahasiswa pendemo) pada caranya, dan biarkan kita jadi bagian pendidik yang merevisi cara pikir, cara bersudut pandang, dan cara marah yang elok, melesak langsung menyelesaikan permasalahan rakyat kita tanpa mengharap janji pemerintah yang entah kapan lunas terbayar.🙂

4 thoughts on ““Mahasiswa Demo ? Masih Jaman ?”

  1. semestinya mahasiswa bisa memanfaatkan demo sebagai salah satu medium eksistensi, bukan satu-satunya medium.

    eksistensi mahasiswa itu harus ada. salah satunya bisa melalui demo. tetapi aktivitas dan proses lain harus pula bisa terlihat oleh masyarakat umum. baik sisi keilmuan, pengabdian masyarakat, entrepreneurship dan lain sebagainya.

    kebanyakan mahasiswa masih belajar memanfaatkan isu serta bagaimana pengelolaannya ke berbagai medium informasi yang tersedia.

    masuk koran atau TV-nya jangan karena demo saja, tetapi harus punya prestasi yang bisa bikin masuk TV juga. hehe😀

  2. Kembali lagi ke pola pikir masing2. Mahasiswa kan beda2 ya, ada yang masih kolot dan nggak mau merevisi pola pikirnya ada juga yang sadar bahwa perubahan bangsa itu bukannya dituntut dari pemerintah, tapi justru mereka yang berperan untuk mewujudkannya. (:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s