Kita di Masa Depan = Dengan Siapa Kita Bergaul Saat ini.

Hallo, November hampir usai tapi tulisan saya baru nongol di akhir bulan. It’s Ok! yang penting tetap berbagi. Kita mulai dari Survey Angkatan Kerja Nasional yang mengungkap data Pengangguran Terdidik di Indonesia dari tahun 2013.

Survey Angkatan Kerja Nasional tahun 2012

Survey Angkatan Kerja Nasional tahun 2012

Apa yang ada di benak kita ketika melihat data diatas ?

Secara keseluruhan memang grafik menunjukkan penurunan, tapi secara kuantitas, sarjana dan diploma yang menganggur masih tergolong banyak di tahun 2012. Salah satu penyebabnya adalah mahasiswa tidak siap menghadapi hidup pasca kelulusannya dari kampus. Saya yakin saat ini ketika kita bertanya kepada mahasiswa, apa cita-cita mereka setelah lulus banyak yang menjawab belum tahu. Hati-hati, saya berani berasumsi bahwa ketika kebimbangan ini berlanjut sampai lulus, maka tidak banyak peluang karir yang bisa didapatkan.

Hal ini sejalan dengan apa yang bisa disiapkan mahasiswa ketika mereka kuliah. Ketika keberanian memutuskan mau jadi apa mereka setelah kuliah dibuat sedini mungkin, maka banyak hal yang bisa dipersiapkan untuk mendekatkan kita pada tujuan kita pasca lulus. Misal, seorang ingin bekerja di Multinational Company, maka dia bisa mulai mempersiapkan diri sedini mungkin, seperti memperindah CV dengan pengalaman organisasi, prestasi, penghargaan, beasiswa, dll. Contoh lainnya ketika seseorang ingin bekerja di agency iklan, yang harus dipersiapkan adalah pengalaman, prestasi di bidang iklan, portfolio atau hasil karyanya di bidang iklan, dan masih banyak lagi. Nah, beda lagi dengan seseorang yang ingin menjadi entrepreneur. Mereka tentu harus membangun jejaring yang luas, mempersiapkan ide bisnis, berkumpul dengan para pebisnis, mencari mentor bisnis, dan lain sebagainya. Pada intinya keberanian untuk memutuskan menjadi kunci utama.

Namun keputusan saja tidak cukup, butuh konsistensi untuk menjalani prosesnya. Inkonsistensi seringkali jadi penghambat kemajuan seseorang. Misal saja mereka yang punya mimpi untuk menjadi entrepreneur, tapi ketika mereka diberikan pilihan melanjutkan bisnis atau memilih bekerja di perusahaan dengan tawaran gaji yang besar, mereka seringkali memilih pilihan kedua dengan dalih ingin jadi karyawan dulu, sembari mengumpulkan modal. Memang sah-sah saja, tapi apakah hal tersebut umpama seorang ingin mencapai mimpinya, tapi memilih jalan yang tidak sesuai mimpinya, dan kemudian ketika ada kesempatan memilih berbalik arah ?

Nah, oleh karena itu, konsistensi sebetulnya bisa dipertahankan, ada beberapa cara :

  1. Bergaul-lah dengan orang yang memiliki ketertarikan yang sama, berjejaringlah dengan orang-orang se-visi, setidaknya ketika inkonsistensi menghampiri, mereka bisa saling menguatkan.
  2. Carilah mentor atau pendamping yang dapat membantu mempercepat kita mencapai visi hidup. Carilah mereka yang berpengalam di bidang yang memang jadi tujuan hidupmu, atau paling tidak yang selalu mengingatkanmu akan mimpi-mimpi besarmu.
  3. Ikutlah komunitas atau organisasi yang mempercepatmu mencapai mimpimu. Misal seseorang yang ingin menjadi entrepreneur, berkomunitaslah dengan mereka yang memang praktisi, seperti HIPMI, organisasi kewirausahaan, dan lain sebagainya.

Ingat, bahwa Salah satu cerminan kita di masa depan adalah dengan siapa kita bergaul saat ini. Pergaulan adalah salah satu elemen pembentuk kesuksesan, ia mendekatkan kita dengan mimpi-mimpi besar kita.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s