Connecting the Dots

Logo DIJIMEDIA Visual Communication Studio

Logo DIJIMEDIA Visual Communication Studio

Malam ini saya ingin berbagi pengalaman seputar apa yang saya lakukan sekarang dan korelasinya dengan masa lalu dan masa depan. Karena entah kenapa semuanya terkoneksi, seperti titik yang terhubung garis, persis apa yang dikatakan Steve Jobs beberapa tahun silam dalam pidatonya tentang ‘Connecting the Dots’

SMP – Pertama kali mengenal Microsoft PowerPoint

Sekolah di pondok pesantren modern memperkenalkan saya dengan komputer dan aplikasi karya Microsoft. Seperti layaknya kursus komputer, pertama kali saya diajarkan mengoperasikan Microsoft Word sebagai ketrampilan dasar. Ketika guru menerangkan fungsi-fungsi toolbar, dengan asaiknya saya mengotak-atik aplikasi lainnya yang saat itu teman saya yang jago komputerpun tak tahu apa fungsinya, Microsoft PowerPoint. Dugaan awal saya itu alat membuat kartu nama karena bentuk slide yang hampir serupa dengan bentuk kartu nama yang saat itu sangat populer. Dengan bangganya saya membuat satu slide berisi identitas saya dan sebuah gambar harimau di sampingnya. Itulah perkenalan pertama saya dengan Microsoft PowerPoint.

Kuliah Komunikasi – Tugas Presentasi

Saya bersyukur bisa masuk jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang yang konon favorit untuk siswa jurusan IPS. Karena hampir setiap mata kuliah kami diberi tugas untuk membuat presentasi, bahkan ini menjadi makanan kami ketika UTS maupun UAS. Singkat cerita, menjelang semester 4 dan seterusnya, mayoritas ujian kami adalah model take home, artinya ujian tidak dilakukan secara tertulis di kelas, melainkan membuat sebuah project atau gagasan tentang implementasi strategi komunikasi secara berkelompok. Saya sebagai mahasiswa yang aktif berorganisasi terkadang harus menyiasati waktu untuk mengerjakan tugas kelompok ini. Tak habis akal, saya terlibat aktif di pertemuan pertama untuk berdiskusi tentang strategi, dan dengan sukarela menawarkan diri untuk membuat presentasi dengan jaminan presentasi yang saya buat memuat faktor WOW alias memukau.

Bagaimana kabar pertemuan kelompok berikutnya ? Saya kebanyakan izin untuk berorganisasi atau kadang datang menyusul yang penting saya tahu strateginya, soal detail bisa saya baca sambil saya bikin presentasi (logikanya, bikin presentasi nggak sekedar copy-paste text yang ada di Microsoft Word kan ?). Saat membuat presentasi saya dengan detail membaca dan mencermati point penting yang ditulis teman-teman dan kadang saya bisa menghabiskan waktu semalaman untuk mendesain presentasi tersebut sebagai bentuk pelunasan janji saya kepada teman sekelompok. Keesokan harinya ketika waktu presentasi (saya dan kelompok sudah terbiasa dengan bekerja mepet deadline) teman-teman banyak menunjuk saya untuk memaparkan presentasi karena alasan sederhana, “udah Bar, kamu aja yang presentasi kan yang tau point presentasinya kamu”. Begitu kira-kira yang mereka katakan. Tapi percaya atau tidak, semua tugas kelompok yang melibatkan presentasi kami mendapatkan nilai A.

Setelah Lulus kemana ?

Ini pertanyaan klasik, saya sering dianggap “tidak keren” oleh teman seangkatan, teman organisasi, senior, bahkan tetangga atau saudara karena pilihan karir yang saya ambil (Secara sarjana Ilmu Komunikasi tapi ujung-ujungnya ‘cuma’ bikin bisnis). Tapi untungnya anggapan tersebut tak berpengaruh pada apapun keputusan saya, termasuk memilih jalan ini. Ya, saya memilih membuat usaha saya sendiri, dengan modal laptop dan koneksi internet serta dukungan dari mentor dan saudara-saudara saya di komunitas Jaringan RumahUSAHA (silahkan buka http://www.rumahusaha.net) , saya membuat usaha dengan nama DIJIMEDIA sebuah Studio Komunikasi Visual yang diawal berdirinya (April 2014) mengerjakan pekerjaan membuat presentasi untuk klien dari luar negeri. Sampai detik ini, apa yang saya mulai setahun yang lalu mulai berbuah manis, saat ini saya memiliki dua orang karyawan dan jenis pekerjaan kami kerjakan lebih variatif serta Alhamdulillah sampai detik ini klien kami berasal dari di 30 negara di dunia dan tersebar di lima benua.

Pada titik ini, saya mulai menyadari bahwa skenario Tuhan indah pada waktunya. Bahwa apa yang saya jalani dengan hati bisa menjadi lahan mencari rejeki. Kata Ridwan Kamil (Wali kota Bandung) pekerjaan yang paling membahagiakan adalah hobi yang dibayar. Saya sepakat dengan ini. Bahwa saat ini, kiranya tidak berlebih apabila saya mendeskripsikan hidup saya dengan satu kata. “BAHAGIA”. Alhamdulillahi robbil’alamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s