Ketemu Langsung Lamaran, Lanjut ke Pelaminan (Part.2)

Me and My Wife

Me and My Wife

Nurlia Erfani adalah gadis kelahiran Slawi, Kabupaten Tegal. Rumahnya berjarak tempuh kurang lebih 30 menit dari rumah saya. Mahasiswa jurusan Desain Tekstil Universitas Sebelas Maret, Solo ini punya Passion di bidang tata busana sekaligus menjadikannya entrepreneur di bidang serupa, lebih spesifik di bidang fashion muslimah. Sementara dia tinggal di Solo untuk menyelesaikan studinya yang sempat cuti demi berwirausaha, saya menetap di Semarang selepas studi saya di Universitas Diponegoro untuk nekad membangun bisnis sendiri, membuat studio desain grafis.

Tidak sulit sebenarnya menjatuhkan pilihan pada Lia, perkara yang lebih rumit adalah meyakinkan, terutama meyakinkan diri sendiri dan orang tua. Meyakinkan diri sendiri sebenarnya tidak begitu kompleks, mudah mengindikasinya. Bagi saya, lebih taat beribadah jadi indikator keyakinan paling penting. Ketika kami berdua merasakan Tuhan turun tangan, maka selesai sudah personalan meyakinkan diri sendiri.

Pertemuan Pertama

Setelah aksi ‘nekad’ saya yang berencana melamar Lia bulan depan, dia meminta untuk saya menemuinya di stasiun Poncol Semarang karena dia sedang transit untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Slawi menggunakan kereta. Ini adalah pertemuan pertama kami selama enam tahun dan pertemuan pertama kami setelah saya menyatakan akan melamarnya. Betapa canggung kami berdua di tengah keramaian stasiun, tak berani menatap satu sama lain, hanya perbicangan soal keseriusan masing-masing yang terlontar malam itu. Jangankan menatap, kami pun harus duduk berjarak karena gugup. “Mas serius sama Lia ?” begitu tanyanya, “Masa soal beginian Aku bercanda” jawab saya singkat. Akhirnya pertemuan singkat kami akhiri dengan dia meminjamkan sebuah buku berjudul “Di Jalan Dakwah Aku Menikah” karya Cahyadi Takariawan. Buku itu yang saya jadikan panduan ketika mempersiapkan pernikahan.

Selepas kami mengakhiri pertemuan, kami kembali mempertanyakan keyakinan masing-masing, dan kami menyatakan semakin mantap dan yakin. Persoalan keyakinan kami berdua selesai.

Bagaimana dengan Orang Tua ?

“Ridho Allah terletak pada ridho orang tua, dan murka Allah terletak pada murka orang tua”. Ini prinsipnya. Begitu juga urusan jodoh, saya yang seorang family man tidak mungkin mengesampingkan restu orang tua, bagi saya ini sakral karena menyangkut restu orang tua.

Tidak lama setelah pertemuan kami di stasiun, saya pulang kampung untuk menceritakan semuanya kepada orang tua, terutama kepada Umi (re : Ibu). “Intinya Umi pengen ketemu dulu sama calonmu”, begitu reaksi pertama setelah mendengar cerita saya panjang lebar. Keesokan harinya, saya mengajak kedua orang tua saya berbelanja ke daerah sekitar Slawi, selesai berbelanja, saya ajak mereka sholat Dhuhur di Masjid yang tidak jauh dari rumah Lia, skenario itu saya atur untuk mempertemukan orang tua saya dengan Lia, dan Lia pun bersedia untuk menemui mereka. Selesai sholat, bertemulah orang tua saya dengan Lia. Pertemuan kami sederhana, sekedar berbincang tentang keluarga dan kehidupan kampusnya. Saya tak banyak bicara disana, selain karena takut Orang tua tidak ‘sreg’ dengan Lia, saya membiarkan Mereka mendalami karakter perempuan pilihanku.

Direstui atau Tidak ?

Dalam perjalanan pulang dari pertemuan tersebut, saya dengan rasa takut bercampur penasaran menanyakan pendapat mereka. “Gimana menurut Umi sama Abi (re : Bapak) ?” Tanyaku singkat sembari memasrahkan hasilnya kepada mereka, Ibarat Indonesian Idol, ini pengumuman eliminasi. Menegangkan tapi keputusannya harus diterima. “Insha Allah Umi setuju” jawab Umiku sambil melempar senyum manisnya. Melegakan! Langsung saja saya peluk Umiku dan kucium pipi kanan kirinya penuh keharuan. Akhirnya restu didapat! Sungguh Allah sedang berperan menggerakkan hati orang tuaku. Subahanallah.

Restu Sudah Didapat, Lalu ?

Tahap berikutnya yang harus dilalui adalah merealisasikan janji untuk mengkhitbah. Namun dari hasil diskusi kami dengan keluarga, mereka menyarankan untuk tidak perlu buru-buru mengkhitbah, kita rencanakan dulu kunjungan yang matang. Tapi menurut saya ini bukan soal buru-buru, tapi mengkhitbah merupakan proses penting dalam sebuah rencana pernikahan. Saya membayangkan kalau saya sudah yakin, orang tua sudah merestui, kemudian ada laki-laki lain yang entah dari mana melakukan kunjungan ke keluarga Lia, mengkhitbah terlebih dahulu, dan orang tua Lia menerima pinangan tersebut, dan itu berarti saya tidak bisa melakukan apa-apa, proses ta’aruf kami terhenti karena pihak ketiga. Bayangan itu terus menghantui dan lantas memaksa saya mengungkapkan kemungkinan terburuk ini. Begini kira-kira saya melobi Umi untuk segera mengkhitbah Lia. “Mi, apa nggak sebaiknya kita ngelamar dulu biar nggak keduluan orang lain ? Kan kita nggak tahu siapa aja yang suka sama Lia. Sekarang bayangin kalo tiba-tiba ada laki-laki lain ngelamar Lia, terus orang tuanya setuju, kita bisa apa ? Kan orang yang lagi dilamar nggak boleh menerima lamaran dari pihak manapun. Artinya perjuangan Akbar sia-sia dong” cerita saya meyakinkan. Nampaknya tidak sia-sia saya kuliah di komunikasi, saya khatam mempersuasi Umi. “Oh, gitu ya ? yaudah mas, jangan kelamaan, kalo bisa khitbah dulu”, begitu jawab Umi terprovokasi anak pertamanya. Rencana untuk menunda khitbah atau meminang (biasa orang menyebut melamar) dibatalkan dan kita dengan cepat merancang strategi supaya lamaran saya diterima.

Khitbah

Kurang lebih sebulan setelah saya menyatakan niat untuk mengkhitbah, saya merealisasikan niat tersebut dan berkunjung ke rumah Lia untuk mengutarakan niat baik saya tersebut.

Bagaimana proses mengkhitbah dan bagaimana reaksi orang tua Lia saat menjamu kami sekeluarga ? Inshaa Allah Saya tuangkan di bagian ketiga.

7 thoughts on “Ketemu Langsung Lamaran, Lanjut ke Pelaminan (Part.2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s