Ketemu Langsung Lamaran, Lanjut ke Pelaminan (Part.3)

Me and My Wife

Me and My Wife

Tepat bulan November 2014 lalu, kami sekeluarga berkunjung dengan niat untuk mengkhitbah sekaligus berkenalan dengan keluarga besarnya. Tidak menyangka kami disambut dengan sangat baik oleh keluarganya. Pasalnya, tidak ada yang menyangka bahwa Pakdhe (re: Paman) Lia adalah sahabat karib Abi saya yang sudah belasan tahun tak bersua dan setelah dijabarkan lebih lanjut, orang tua Lia banyak bersahabat dengan murid kursus bahasa Arab yang dijalani Abi belasan tahun lalu. Jadilah suasana khitbah kami menjadi ajang reuni dadakan bagi kedua sahabat tersebut. Begitu indah Tuhan membuat skenario pertemuan kami. Khitbah berjalan dengan lancar dan keluarga kami diterima dengan sangat baik.

Ada Laki-laki Lain

Keputusan untuk tidak menunda khitbah adalah salah satu keputusan terbaik saya seumur hidup, pasalnya beberapa hari setelah saya mengkhitbah, datanglah seorang laki-laki yang selama ini berteman akrab dengan Lia menemui orang tuanya dengan maksud menyatakan keseriusannya. Tapi apa boleh dikata, Lia sudah saya pinang dan memang tidak semestinya menerima pinangan orang lain. Saat itu pula saya ceritakan peristiwa itu ke Umi, “Mi, tau nggak, kemarin ada cowok main ke rumah Lia terus dia bilang mau serius sama Lia, tapi Papanya Lia nolak, kan kita duluan yang khitbah”, begitu ceritaku antusias. “Oiya Mas ? Ya Allah Alhamdulillah kamu waktu bilang supaya dikhitbah dulu biar nggak keduluan” ungkapnya penuh syukur. Intinya urusan lamar melamar, Siapa cepat dia dapat, begitu slogannya.

Ta’aruf (Perkenalan)

Terhitung kurang lebih sebulan kami berkomunikasi secara intens dan melanjutkan mengkhitbah, kami memutuskan untuk menjalani proses perkenalan kami sebenar dan sebaik mungkin. Walaupun kami tahu tak mudah untuk dua orang yang saling mencintai tidak saling bertemu dan melakukan kontak fisik. Kami menempuh jalan yang tak banyak orang lain lakukan itu.

Awalnya kami kebingungan bagaimana kami menjalin komunikasi dengan baik untuk saling mengenal karakter masing-masing. Akhirnya saya berinisiatif untuk menceritakan bagaimana masa lalu saya yang kelam, apa yang saya kerjakan saat ini, bagaimana lingkungan pergaulan saya, serta apa rencana masa depan saya. Tak lupa pula saya menyebutkan gaji bulanan yang saat itu masih dibawah Upah Minimum Regional (UMR) Kota Semarang. Hal detail tersebut saya tuangkan dalam tujuh halaman Microsoft Word dan dikirim melalui surat elektronik, macam surat cinta digital. Sangat kekinian.

Seiring berjalannya waktu dan komunikasi yang terlalu intens, kami merasa tidak ada bedanya pacaran jarak jauh dengan ta’aruf, kami seakan-akan berkomunikasi selayaknya pacar, saling menanyakan ‘sudah makan apa belum’, ‘lagi ngapain’, ‘jangan lupa makan’, dan lain sebagainya. Kami pun memutuskan untuk memperbaiki cara kami berkomunikasi, kami membuat sebuah grup di aplikasi messanger LINE yang terdiri dari Saya, Lia, dan dua adik saya. Kami mengkomunikasikan apapun baik yang bersifat sangat pribadi sekalipun melalui group tersebut. Hal tersebut dimaksudkan supaya kami tidak berduaan di dunia virtual.

Memang pertemuan fisik tidak terhindarkan, beberapa kali kami bertemu secara langsung walaupun selama masa khitbah bisa dihitung jari intensitas pertemuan kami. Untuk menyiasati agar tidak berkhalwat (berduaan), beberapa kali kami bertemu dengan didampingi teman atau saudara masing-masing. Beberapa kali saya berkunjung ke Solo untuk memastikan konsep pernikahan dan fitting baju pengantin dengan ditemani Adik perempuan saya, Nia. Dia pun begitu. Selalu melibatkan teman-temannya dalam pertemuan kami. Beberapa kali saya berkunjung ke orang tua Lia untuk sekedar saling bertukar pikir. Dengan begitu justru saya banyak mendapatkan teman baru, teman Lia adalah teman saya juga, begitu kira-kira konsepnya.

Masa penantian sebelum menikah menjadi masa terberat menjaga cinta dan iman. Tak jarang saya mempertanyakan kembali keseriusan diri menikahi Lia. Namun lagi-lagi Tuhan menguatkan kami, ada saja orang-orang yang tanpa dimintai pendapat menyatakan pengakuannya bahwa calon istri saya adalah orang baik. Salah satunya adalah Papa Lia. Suatu waktu beliau mengirimkan sebuah pesan singkat yang kurang lebih isinya begini. “Nak Akbar, Papa itu sayang banget sama Lia, dia anak yang sholehah, tolong jaga Lia ya nak”. Calon menantu mana yang tidak terenyuh mendengarkan kalimat itu dari calon mertua, wali dari calon istriku. Kalimat tersebut berhasil melipatgandakan keyakinan bahwa perempuan yang saya pinang adalah yang terbaik yang sudah Allah tuliskan di Lauhul Mahfudz.

Skenario Tuhan Memang Asyik

Satu lagi yang entah kebetulan atau tidak, tapi yang pasti ini sudah diskenariokan Tuhan. Ketika kami mengurus surat menyurat di Kantor Urusan Agama (KUA), tak disangka kepala KUA setempat adalah sahabat karib Abi dan Umi, dan asisten beliau sahabat Abi saya ketika SMP, sehingga persoalan surat menyurat dan verifikasi data menjadi ajang reuni dengan teman lama.

Selalu Ada Jalan

Saya memutuskan menikah ketika gaji saya masih dibawah UMR Kota Semarang, sepersepuluh gaji fresh graduate yang bekerja di Multi National Company. Ini kenekatan kesekian dalam hidup saya. Tak berpikir bahwa menikah itu butuh modal, saya justru mendapati saldo tabungan yang tak seberapa. Boleh diartikan jauh dari cukup untuk menggelar pernikahan. Tapi Tuhan memberikan saya rejeki dari jalan-jalan yang tidak disangka. Bisnis saya bertumbuh, karyawan bertambah, bahkan sudah bisa membagi deviden untuk para pemilik modal. Sebulan menjelang menikah justru klien berdatangan sampai kami kewalahan menanganinya. Tiap hari ada saja email masuk untuk mengerjakan project baru dengan nilai yang lumayan. Orang tua juga demikian, ada saja pemasukan dari sumber yang tak disangka-sangka. Keyakinan kami akan pertolongan Tuhan semakin menebal. Bahwa Tuhan tak mungkin berpangku tangan kepada hamba yang menempatkan-Nya sebagai tujuan hidup. Kali itu Tuhan turun tangan, secara penuh.

D-Day

Tepat tanggal 22 Juli 2015, saya mengucapkan “Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha Linafsiiy, bil Mahril Madzkur, Haalan”. SAH!!! Mulai detik itu saya menjadi seorang suami sekaligus Imam keluarga. Kami mengadakan pernikahan sederhana di halaman rumah mempelai putri dan keesokan harinya tasyakuran di halaman rumah saya. Tak ada riasan yang menor dan mencolok, gaun kami didesain sendiri oleh calon perancang busana terkenal, istri saya sendiri. Dekorasi juga seadanya, bagi kami tak perlu mewah untuk menikah, selebrasinya tak usah berlebih, Karena kami ingin mencintai dengan cara sederhana, seperti Rosul pada istri-istrinya.

Penantian panjang itu berujung bahagia, proses berliku itu berakhir indah.

The Power of ‘Doa Ibu’

Selesai dengan urusan pernikahan, suatu hari saya sengaja menemani Umi memasak di dapur. Kami mengenang momen indah saat pernikahan kami dimana tamu-tamu yang datang melebihi ekspektasi kami. Saudara, sahabat, teman kantor, guru-guru dari SD, SMP, SMA serta teman-teman sekolah dan organisasi hadir dan turut memberikan doa untuk kami. Subhanallah..

Saat itu pula baru saya tahu ternyata apa yang menjadi doa Umi selama ini terkabul. “Umi itu pengen jodohmu perempuan sholehah dan jangan orang jauh, Alhamdulillah kamu dapet orang Slawi, Umi itu pengen istrimu bukan dari kalangan orang mewah, takutnya nggak bisa mengimbangi gaya hidup kita yang sederhana, Alhamdulillah kamu dikasih istri yang bisa ngimbangi kamu” Begitu tuturnya penuh syukur. Dahsyat sekali kekuatan doa Ibu.

Catatan Untuk Sahabat

Sungguh pernikahan itu soal mental, bukan lamanya kita berpacaran yang menjadikan sepasang manusia berjodoh. Tidak kurang dari belasan kali saya mendapati cerita sahabat saya yang bertahun-tahun berpacaran yang hubungannya berakhir kandas. Jangankan berjodoh di pelaminan, justru sakit hati yang dirasakan bahkan banyak yang berujung dendam. Untuk laki-laki jantan di luar sana, pacaran bukan jaminan kalian bersama di pelaminan, jika memang kamu yakin, datangi orang tuanya, nyatakan keseriusanmu pada walinya, lamar! Tak ingin cerita diatas jadi salah satu episode kelam hidupmu karena kamu telat melamar, kan ? Percayalah bahwa perempuan baik akan mencintaimu berkali lipat ketika kamu mendatangi orang tuanya dan meminta izin untuk menjadikannya pilihan terbaikmu.

Bahwa siap menikah itu bukan soal seberapa banyak tabunganmu atau seberapa cemerlang karirmu, menikah adalah merelakan hatimu untuk beribadah kepada Tuhan demi menyempurnakan agamamu. Ketika Tuhan menjadi tujuanmu, maka Tuhan akan memudahkanmu. Seorang yang bergaji 1,5 juta dan hanya memiliki sebuah studio mini tempatnya mencari nafkah saja berani memutuskan untuk menikah demi menyempurnakan agamanya, bagaimana dengan kalian yang bergaji dua, tiga, empat, bahkan lima kali lipat serta menghuni gedung-gedung besar di ibu kota ? Bagaimana dengan career path-mu yang terjamin di tempatmu bekerja ? Tidak ada kita belum siap, yang ada hanya sudah atau belum kita meyiapkan diri menjemput jodoh.

Perempuan baik di luar sana, tak usah khawatir dengan siapa kalian berjodoh, Tuhan tak mungkin ingkar dan jodoh tak mungkin tertukar. Jodoh tertukar itu hanya ada di FTV. Laki-laki baik untuk perempuan baik adalah janji-Nya, yang kalian butuhkan adalah percaya bahwa Tuhan akan mempertemukan kalian dengan dengan laki-laki yang kadar imannya setara. Maka, perbaikilah diri sebaik mungkin. Juga tak usah menuntut pernikahan yang mewah, cukup cinta kalian saja yang megah.

Saya sudah melewati etape hidup sebagai seorang remaja penuh romansa, dan sekarang sedang menapaki etape sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga. Pada kesempatan ini saya ingin memberikan pengakuan bahwa pacaran setelah menikah itu nikmat sekali, sumpah! demi Allah! Tak bisa saya jabarkan bagaimana nikmatnya karena memang tak bisa diterjemahkan dalam kata-kata. Subhanallah, wal Hamdulillah.

Salam

@muhamyakbar

12 thoughts on “Ketemu Langsung Lamaran, Lanjut ke Pelaminan (Part.3)

  1. Aku mesti sing pertamax komentar. Doain aku ya Bar… Semoga saya dapet jodoh calon yang ditaarufkan.

    Kalau ada wanita sholihah boleh lho aku ditaarufkan :))

  2. Doakan saya, Lia, temanku yang sangat baik, dan sang suami, semoga saya diperkenankan mengikuti jejak rasulnya… cenderung pemalu dan berpenampilan kurang menarik. tidak cantik seperti lia. Tapi harus tetep percaya sama Allah SWT,,,

    • Sabar ya ta sayang…, jodoh dari Allah tidak akan pernah melihat secara fisik. Lebih dari itu aku tau ta perempuan yg cerdas, mandiri, dan kreatif.
      Allah tidak pernah terlambat dalam menentukan jodoh utk umatnya, Allah juga tidak pernah buru2, tapi Allah selalu Tepat.
      Semoga ta segera dipertemukan jodohnya🙂

  3. The question is, where do you live with your wife bro? Just wondering.. Very inspiring me, thank you.

  4. Assalamuallaikum, Mas Akbar parah banget baru tau aku kalau sudah nikah, terakhir dengar dr junior jurusanmu baru ada rencana. Selamat ya mas semoga perjalanan hidupnya setelah ini semakin berkah. Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s